BELOPA–Capt. Unru Baso., S.M, M.Mar, anggota DPR RI Fraksi Gerindra asal Dapil Sulsel III bersama Bupati Luwu H. Patahuddin., S.Ag serta anggota DPRD Kab Luwu dari Fraksi Gerindra, Perindo dan PDIP mengujungi Gudang Bulog di wilayah Luwu guna melakukan fungsi pengawasan terhadap mitra komisi VI, serta memastikan stok cadangan beras pemerintah (CBP) dalam kondisi aman untuk wilayah Sulawesi Selatan.
Unru Baso menyebut, kunjungannya untuk memastikan langsung Bulog benar-benar memiliki stok beras sebagai cadangan beras pemerintah (CBP) juga untuk memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa stok pangan aman dan terkendali, baik di kawasan Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Timur dan Luwu Utara maupun Sulawesi Selatan.
Sementara itu, Bupati Luwu, H.Fatahuddin., S.Ag menyebut terjadi peningkatan produksi padi yang dipengaruhi perbaikan irigasi, kemudahan mengakses pupuk dan kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) terhadap gabah, yaitu sebesar Rp6.500 sehingga menimbulkan gairah bagi petani untuk melakukan budidaya.
Lonjakan produksi beras nasional pada 2025 merupakan hasil nyata dari program strategis Kementerian Pertanian yang mencakup kemudahan pupuk bersubsidi, perbaikan jaringan irigasi, pemberian bantuan sarana-prasarana, hingga peningkatan harga pembelian pemerintah (HPP)
gabah.
Perbaikan irigasi, menurutnya, membuat petani tadah hujan yang sebelumnya hanya melakukan penanaman sekali dalam setahun menjadi dua kali dalam setahun. Kabuaten luwu sendiri memiliki sekitar 40 ribu Ha sawah produktif dengan IP 200 (Indeks Penanaman) atau pola tanam padi dua kali panen dalam setahun dilahan yang sama.
Dari data sensus pertanian tahun 2025 tercatat bahwa rata-rata produksi Gabah Kering Panen (GKP) di wilayah Luwu adalah sebesar 6,3-7,7 ton per Ha, sehingga kalkulasi dalam kurun waktu setahun dapat mencapai hingga 400-500 ribu ton GKP. Kedepan Patatudding juga akan mendorong petani Luwu untuk meningkatkan indeks penanaman dari IP 200 ke IP 300 sehingga dalam setahun diharapkan petani bisa melakukan 3 kali musim panen dalam setahun.
Capt. Unru Baso menyebut dari data yang diperoleh pihaknya untuk wilayah Kabupaten Luwu dan Kota Palopo, saat ini Cadangan Beras Pemerintah (CBP) adalah sebesar 21 ribu ton beras, dan untuk wilayah Luwu Utara dan Luwu Timur sebanyak 11 ribu ton. “Sehingga stok beras untuk Luwu Raya sebanyak 32 ribu ton beras yang membuktikan cadangan beras pemerintah dalam kondisi yang sangat aman diwilayah Sulsel terkhusus Luwu Raya bahkan untuk 2-3 tahun ke depan,” katanya.
Menurutnya, tren positif di Luwu Raya sejalan dengan geliat produksi beras nasional yang kian menggembirakan. Menteri Pertanian RI, H. Andi Amran Sulaiman lewat berbagai media nasional mengumumkan bahwa Indonesia telah berhasil mencapai swasembada beras yang dibuktikan dengan produksi beras nasional menembus angka 5,1 juta ton beras per 23 April 2026, tertinggi sepanjang sejarah, dan sudah kita buktikan dengan mengecek langsung stok beras di gudanggudang bulog.
“Dari hasil kunjungan ini kami mendapatkan informasi bahwa sebenarnya Bulog bisa menyerap lebih banyak beras, akan tetapi ada keterbatasan dalam gudang penyimpanan beras sehingga menurutnya perlu ada rehabilitasi dan pembangunan gedung baru gudang bulog untuk menyerap lebih banyak beras di wilayah Luwu Raya,” kata Capt. Unru Baso.
Bupati luwu juga menjelaskan bahwa pemerintah Kab Luwu telah menyiapkan lahan hibah untuk pembangunan gudang bulog di desa Barakmamase di Kecamatan walenrang sebagai bentuk perhatian dalam menyiapkan gudang bulog baru untuk menyerap gabah masyarakat di wilayah Luwu karena gudang Pamannu ini sudah berdiri sejak tahun 1970 sehingga perlu ada peremajaan dan pembangunan gudang baru ungkapnya.
Menurutnya, jika terjadi peningkatan produksi yang signifikan di tingkat petani artinya bulog juga harus menyerap lebih banyak gabah sehingga gudang baru menjadi salah satu tantangan besar Bulog di Luwu meskipun saat ini sudah ada 2 gudang dengan masing-masing kirang lebih
memiliki kapasitas 3.500 ton.
Disisi lain Unru Baso juga menekankan pentingnya dukungan dan kolaborasi dari seluruh stakeholder untuk mendorong lahirnya pengusaha lokal yang bergerak dibidang penggilingan padi, sebab dengan jumlah panen yang cukup besar mitra bulog di Kab Luwu hanya ada sekitar 5-6 penggilingan sehingga perlu ada perhatian baik membangun penggilingan milik bulog sendiri maupun menstimulus pengusaha lokal agar mau terjun di sektor penggilingan padi karena selain menekan biaya produksi juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat lokal. (***)

