PALOPO–Mahasiswa baru Fakultas Sains dan Teknologi (FSAINTEK) Universitas Muhammadiyah Palopo (UMPalopo) diperkenalkan dengan gambaran dunia industri, perkembangan teknologi, hingga kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja sejak awal memasuki perkuliahan.

Pembekalan tersebut menjadi bagian dari kegiatan penyambutan mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 yang digelar di Kampus 2 FSAINTEK UM Palopo, Kamis lalu, 24 September 2026. Kegiatan mengangkat tema “Membangun Generasi Unggul Berbasis Sains dan Teknologi untuk Indonesia Berkemajuan.”

Tidak hanya dari lingkungan akademik, kegiatan tersebut menghadirkan perwakilan dunia industri dan tokoh daerah untuk memberikan perspektif kepada mahasiswa mengenai tantangan, peluang, serta pentingnya mempersiapkan kompetensi sejak bangku kuliah.

Dekan FSAINTEK UM Palopo, Dr. Muh. Zainal S., mengatakan perguruan tinggi perlu membangun keterhubungan yang kuat dengan dunia industri agar kompetensi lulusan tetap relevan dengan kebutuhan perkembangan zaman. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori akademik. Mereka juga perlu mampu mengembangkan kemampuan praktis dan menghasilkan inovasi yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat maupun dunia kerja.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Rektor III UM Palopo bidang kemahasiswaan, Dr. Goso, SE., M.M., CFP. Ia mendorong mahasiswa memanfaatkan masa perkuliahan untuk membangun kompetensi, karakter, kepemimpinan, dan pengalaman organisasi.

Mahasiswa Diperkenalkan dengan Industri Nikel

Sementara itu, perspektif dunia industri disampaikan Factory Manager PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS), Faizal Mufthi, melalui materi bertema “Sinergi Kampus & Industri.”

Dalam paparannya, mahasiswa diperkenalkan dengan perkembangan industri mineral dan hilirisasi nikel di Luwu, teknologi pengolahan mineral, peluang kerja, serta kompetensi yang dibutuhkan industri ke depan.

Melalui materi “Dari Tanah Luwu ke Nikel Dunia: Smelter, Peluang, dan Kamu”, mahasiswa mendapatkan gambaran mengenai proses pengolahan bijih nikel menggunakan teknologi Rotary Kiln–Electric Furnace (RKEF).

Proses tersebut mencakup sejumlah tahapan, mulai dari ore receiving and stockpile, blending and drying, rotary kiln, electric furnace, tapping, hingga proses refining dan menghasilkan produk akhir.

Faizal juga menunjukkan bahwa kebutuhan industri tidak hanya terbuka bagi lulusan bidang pertambangan. Berbagai disiplin ilmu memiliki ruang untuk berkontribusi dalam ekosistem industri modern. Mahasiswa Teknik Pertambangan, misalnya, dapat berperan dalam grade control, ore handling, hingga perencanaan pasokan bijih.

Sementara lulusan Rekayasa Perangkat Lunak dapat berkontribusi melalui pengembangan sistem informasi produksi, aplikasi, dan pengelolaan data. Teknik Komputer memiliki peluang pada bidang DCS/SCADA, jaringan, sensor, dan otomasi.

Adapun bidang Pertanian serta Perencanaan Wilayah dan Kota dapat berkontribusi pada aspek reklamasi, revegetasi, pemberdayaan masyarakat, pengembangan kawasan industri, tata ruang, hingga pengelolaan dampak wilayah. Paparan tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa bahwa perkembangan industri membutuhkan kolaborasi lintas disiplin ilmu.

Selain mendapatkan wawasan industri, mahasiswa baru juga memperoleh motivasi dari Dr. Rahmat Masri Bandaso, M.Si., mantan Wakil Walikota Paloopo dua periode.

Dalam sesi tersebut, mahasiswa diajak menentukan tujuan selama menempuh pendidikan, mengenali potensi diri, serta memanfaatkan masa kuliah untuk membangun kompetensi dan jejaring. Mahasiswa juga didorong untuk aktif, kreatif, inovatif, dan berani mengambil kesempatan yang tersedia selama berada di lingkungan perguruan tinggi.

Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan proses pengolahan bijih nikel yang sebelumnya dipaparkan dalam sesi industri. Mahasiswa dianalogikan seperti bijih nikel yang memiliki potensi, tetapi membutuhkan proses panjang sebelum menjadi produk bernilai. Pendidikan, pengalaman, tantangan, dan kerja keras menjadi bagian dari proses pembentukan tersebut. Kompetensi Jadi Bekal Menghadapi Transformasi Industri.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa juga diperkenalkan dengan sejumlah kompetensi yang dinilai relevan dengan perkembangan industri, mulai dari green metallurgy, teknologi digital dan data, otomasi dan kontrol, budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3), kemampuan bahasa Inggris dan komunikasi, hingga sertifikasi kompetensi.

Pengembangan kompetensi tersebut kemudian dipetakan dalam perjalanan pendidikan selama delapan semester. Pada tahun pertama, mahasiswa diarahkan membangun fondasi keilmuan. Tahun kedua menjadi tahap eksplorasi kompetensi, sedangkan tahun ketiga mulai diarahkan untuk mengenal dunia industri melalui kunjungan, kerja praktik, maupun magang.

Memasuki tahun keempat, mahasiswa diarahkan mempersiapkan karya dan portofolio sebagai bagian dari kesiapan memasuki dunia profesional. Rangkaian penyambutan mahasiswa baru tersebut menjadi ruang bagi FSAINTEK UM Palopo untuk memperkenalkan lingkungan akademik sekaligus memberikan gambaran mengenai tantangan dunia kerja dan perkembangan industri.

Keterlibatan akademisi, dunia industri, dan tokoh daerah dalam kegiatan tersebut memberikan mahasiswa perspektif yang lebih luas mengenai pentingnya membangun kompetensi sejak awal perkuliahan.

Bagi mahasiswa baru, pesan yang muncul dari rangkaian materi tersebut sederhana: proses menjadi lulusan yang siap menghadapi dunia kerja membutuhkan waktu, pengalaman, dan kemauan untuk terus berkembang. (putri)