MASAMBA–Komisi III DPRD Kabupaten Luwu Utara menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) panas bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), hari Kamis (09/04/2026), guna mencari solusi atas krisis ekonomi yang menghimpit para petani.

Rapat yang dipimpin langsung oleh Wakil Ketua I DPRD Luwu Utara ini dihadiri oleh jajaran anggota Komisi III, perwakilan Dinas Pertanian, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), serta perwakilan petani dari berbagai kecamatan.

Anggota Komisi III, H. Mahfud Yunus menilai Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan gagal dalam melakukan intervensi pasar untuk menstabilkan harga TBS.

“Jika persoalan ini tidak segera ditangani secara serius oleh pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, maka saya siap memimpin masyarakat untuk melakukan aksi sebagai bentuk perjuangan atas hak-hak petani,” ungkap Mahfud.

Menurutnya, penurunan harga ini bukan sekadar angka statistik, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup ribuan warga Luwu Utara yang menggantungkan nasib pada sektor perkebunan sawit.

Selain itu, Mahfud juga mendesak DPMPTSP dan Dinas Pertanian agar tidak sekadar menjadi penonton. Ia meminta kedua instansi tersebut lebih proaktif dan gigih dalam melakukan koordinasi lintas sektoral guna mendorong penyesuaian harga TBS yang lebih adil dan manusiawi.

Adapun beberapa poin utama yang dihasilkan dalam RDP tersebut diantaranya;

1. Sinergi Lintas Otoritas, Mendorong koordinasi intensif antara Pemerintah Kabupaten dan Provinsi untuk meninjau ulang penetapan harga di tingkat pabrik.

2. Fungsi Pengawasan, Memperketat pengawasan terhadap kepatuhan perusahaan Penyakit Kelapa Sawit (PKS) dalam menetapkan harga beli sesuai regulasi.

3. Kebijakan Berpihak, Mendesak lahirnya kebijakan nyata yang melindungi kesejahteraan petani dari fluktuasi harga yang liar.

Para petani yang hadir berharap RDP kali ini menghasilkan dampak instan. Mereka mengatan pertemuan formal di ruang rapat tidak akan berarti apa-apa jika di lapangan harga TBS tetap mencekik leher petani.

Pertemuan ini diakhiri dengan kesepakatan kolektif seluruh pemangku kepentingan harus bergerak serentak. (wahdi)